Gading    |    Serpong    |    Kebayoran    |    Chinatown    |   Puri    |    Pluit Kapuk    |    CitraPalem    |    Bekasi    |    Cibubur    |   Sunter    |    Depok    |    Bogor

Bisnis Secondary Property di Kelapa Gading

bisdag - ray white - lulus (2)

KAWASAN Kepala Naga ini diyakini akan selalu menjadi kawasan yang menggiurkan bagi bisnis secondary property, sekaligus ajang persaingan ketat. Siapa cepat, dia dapat.

Meski baru berjalan empat bulan, prospek bisnis secondary property di Kelapa Gading diyakini akan kembali tumbuh seperti lima tahun terakhir di 2012 ini. Keyakinan ini diungkapkan berbagai pihak, mulai dari pengamat, asosiasi broker, hingga agen broker itu sendiri. Contohnya keyakinan Ricky Conrad. CEO situs jual beli properti PropertyKita ini mengatakan, prospek secondary property di Kelapa Gading setiap tahunnya selalu tinggi. Letak yang strategis dan nama besar Kelapa Gading membuat kawasan ini menguntungkan bagi bisnis secondary property. “Kelapa Gading menjadi incaran utama masyarakat yang mencari rumah seken. Luas lahannya terbatas, sementara permintaannya tinggi,” ujar Ricky.

Kondisi ini sebenarnya cukup mengherankan. Sebab, siapa yang tidak kenal dengan kemacetan yang akrab setiap harinya di Kelapa Gading, serta banjir besar yang beberapa kali terjadi di kawasan ini. Namun, minat pembeli untuk memiliki properti di kawasan ini tidak pernah surut. Bagi pengamat properti Bambang Eryudhawan, macet dan banjir yang akrab dengan kawasan ini tidak sedikit pun menurunkan minat orang memiliki properti di kawasan ini, sekalipun sifatnya seken. “Banyak aspek yang membuat bisnis secondary property dan broker properti di Kelapa Gading kian hari kian besar. Bahkan, bisnis ini siap menggantikan primary property dan para pengembang dalam merajai bisnis properti di Kelapa Gading. Simpelnya, semuanya ada di Kelapa Gading, mulai dari rumah, tempat kerja, sekolah, mal, fasilitas sosial dan umum, semua ada. Sangat jarang kawasan strategis dan lengkap seperti ini,” papar mantan wakil ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) ini.

Menariknya lagi, secondary property di Kelapa Gading mampu menggerakkan seluruh segmen yang dimilikinya untuk tumbuh bersama. Baik itu landed house, apartemen, hingga ruko dan rukan , semuanya sama-sama seken, sama-sama diminati, baik dengan sistem jual-beli maupun sewa. Tidak heran jika setiap tahunnya bisnis ini mengalami pertumbuhan di Kelapa Gading. Dan, istilah secondary dalam bisnis ini, dalam wujud arti kata sesungguhnya juga menggambarkan para peminat properti di kawasan ini juga menjadikan properti sebagai kebutuhan sekunder alias investasi yang ditargetkan memberikan untung. “Tidak lepas dari faktor investasi. Kalau yang modalnya besar, biasanya investasi untuk komersial dan dicarinya ruko. Kalau landed house rata-rata di kisaran Rp 3 miliar, paling laris yang Rp 1,5 miliar. Cuma, karena harga landed house terus naik, orang mulai bergeser ke apartemen. Ini yang paling diminati di kawasan Mall of Indonesia (MOI),” jelas Direktur Chika Property Robert Kaonang.

Lingkungan dan fasilitas yang ada di Kelapa Gading berpengaruh secara langsung, dan ini menguntungkan broker di Kelapa Gading.

Leave a Comment

Powered by Mediatorium | design by Web Division PT.MKS